KATA
PENGANTAR
Segala pujian
syukur,hormat dan terima kasih kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa
yang telah memberikan Hikmat serta Anugerah-Nya sehingga penyusunan tugas ini
dapat di selesaikan.
Tugas ini disusun
untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah KMB III yang membahas tentang “
TRAKSI” pada tingkat IIA,JurusaN Keperawatan Ambon,Poltekes Kemenkes Maluku.
Terima kasih
disampaikan kepada Ns J. Sahalessy S.kep selaku dosen mata kuliah KMB III yang
telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Demikian tugas ini
disusun semoga bermanfaat,agar dapat memenuhi tugas mata kuliah KMB III.
Ambon 3 Mei,2011
Penyusun
Kelompok 2
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang
banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO
telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian.
Penyebab fraktur terbanyak adalah karena kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan
lalu lintas ini, selain menyebabkan fraktur, menurut WHO, juga menyebabkan
kematian 1,25 juta orang setiap
tahunnya, dimana sebagian besar korbannya adalah remaja atau dewasa muda.
Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.
Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan.
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat
lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari
traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasim atau spasme otot dalam usaha
untuk memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama
dari traksi : traksi skeletal dan traksi kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan.
Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan yang disebut dengan countertraksi. Tahanan dalam traksi didasari pada hokum ketiga (Footner, 1992 and Dave, 1995). Traksi dapat dicapai melalui tangan sebagai traksi manual, penggunaan talim splint, dan berat sebagaimana pada traksi kulit serta melalui pin, wire, dan tongs yang dimasukkan kedalam tulang sebagai traksi skeletal (Taylor, 1987 and Osmond, 1999).
Penggunaan traksi telah dimulai 3000 tahun yang lalu. Suku Aztec dan mesir menggunakan traksi manual dan membuat splint dari cabang pohon (Styrcula, 1994 a and Osmond, 1990) dan Hippocrates (350 BC) menulis tentang traksi manual dan tahanan ekstensi dan ekstensi yang berlawanan (Styrcula, 1994 a: 71). Pada tahun 1340 ahli bedah Perancis bernama Guy de Chauliac menulis tentang traksi isotonic dengan berat yang ditahan pada kaki tempat tidur pasien, tetapi akibat pertimbangan praktek hal ini dilakukan hingga tahun 1829 ketika traksi berkesinambungan diaplikasikan secara luas (Peltier, 1968: 1603). Sekitar tahun 1848 Josiah Crosby seorang klinisi amerika merupakan orang yang pertama mempromosikan dan menunjukkan traksi kulit yang lebih efektif tidak hanya sebagai terapi dari fraktur melainkan juga untuk menanani deformitas panggul (Peltier, 1968: 1609). Hal ini meripakan aplikasi yang membuat perhatian Gurdon Buck yang pada tahun 1861 melalui pengetahuannya terhadap kerja Crosby mempunyai traksi kulit yang dinamakan nama dirinya sendiri. Hal ini tidak dilakukan hingga pada tahun 1921 seorang ahli bedah Australia Hamilton Russel meluaskan konsep traksi Buck dengan menggunakan doktrin Pott’s (1780) bahwa fraktur tungkai harus ditempatkan pada posisi pada otot yang relaksm dinamakan fleksi panggul dan lutut, dengan mengembangkan traksi Hamilton Russel (Peltier, 1968:1612).26 tahun sebelumnya, pada bulan desember 1895, seorang professor German bernama Röntgen mempublikasikan observasinya dengan ‘tipe baru X-Ray’ dimana dimulai era baru dalam penelitian fraktur (Peltier, 1968:1613). Dengan menggunakan X-Ray untuk menilai terapi fraktur, dunia ortopedi berhadapan dengan kenyataan dimana terapi traksi Buck tidak memuaskan 100% pada semua kasus dan tahun 1907 Fritz secara sukses mengembangkan traksi skeletal dengan menggunakan pin yang dimasukkan kedalam kondylus femur.(Peltier,1968: 1615).
Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan yang disebut dengan countertraksi. Tahanan dalam traksi didasari pada hokum ketiga (Footner, 1992 and Dave, 1995). Traksi dapat dicapai melalui tangan sebagai traksi manual, penggunaan talim splint, dan berat sebagaimana pada traksi kulit serta melalui pin, wire, dan tongs yang dimasukkan kedalam tulang sebagai traksi skeletal (Taylor, 1987 and Osmond, 1999).
Penggunaan traksi telah dimulai 3000 tahun yang lalu. Suku Aztec dan mesir menggunakan traksi manual dan membuat splint dari cabang pohon (Styrcula, 1994 a and Osmond, 1990) dan Hippocrates (350 BC) menulis tentang traksi manual dan tahanan ekstensi dan ekstensi yang berlawanan (Styrcula, 1994 a: 71). Pada tahun 1340 ahli bedah Perancis bernama Guy de Chauliac menulis tentang traksi isotonic dengan berat yang ditahan pada kaki tempat tidur pasien, tetapi akibat pertimbangan praktek hal ini dilakukan hingga tahun 1829 ketika traksi berkesinambungan diaplikasikan secara luas (Peltier, 1968: 1603). Sekitar tahun 1848 Josiah Crosby seorang klinisi amerika merupakan orang yang pertama mempromosikan dan menunjukkan traksi kulit yang lebih efektif tidak hanya sebagai terapi dari fraktur melainkan juga untuk menanani deformitas panggul (Peltier, 1968: 1609). Hal ini meripakan aplikasi yang membuat perhatian Gurdon Buck yang pada tahun 1861 melalui pengetahuannya terhadap kerja Crosby mempunyai traksi kulit yang dinamakan nama dirinya sendiri. Hal ini tidak dilakukan hingga pada tahun 1921 seorang ahli bedah Australia Hamilton Russel meluaskan konsep traksi Buck dengan menggunakan doktrin Pott’s (1780) bahwa fraktur tungkai harus ditempatkan pada posisi pada otot yang relaksm dinamakan fleksi panggul dan lutut, dengan mengembangkan traksi Hamilton Russel (Peltier, 1968:1612).26 tahun sebelumnya, pada bulan desember 1895, seorang professor German bernama Röntgen mempublikasikan observasinya dengan ‘tipe baru X-Ray’ dimana dimulai era baru dalam penelitian fraktur (Peltier, 1968:1613). Dengan menggunakan X-Ray untuk menilai terapi fraktur, dunia ortopedi berhadapan dengan kenyataan dimana terapi traksi Buck tidak memuaskan 100% pada semua kasus dan tahun 1907 Fritz secara sukses mengembangkan traksi skeletal dengan menggunakan pin yang dimasukkan kedalam kondylus femur.(Peltier,1968: 1615).
Traksi telah menjadi sebuah ketetapan dalam management
ortopedi hingga 1940 ketika fiksasi internal menggunakan nail, pin dan plate
menjadi praktek yang sering. Pengembangan ini berpasangan dengan kurangnya
pembedahan fraktur dengan kebutuhan ekonomi untuk perawatan rumah sakit yang
lebih
Penggunaan Traksi telah didokumentasikan melalui banyak literature : traksi digunakan untuk mempromosikan istirahat/imobilisasi, dimana membuat keurusan tulang dan jaringan lunak menyembuh (Taylor,1987; Dave 1995 and Redemann, 2002).Hal ini menolong untuk mengistirahatkan inflamasi yang ada dan mengurangi nyeri (Taylor,1987; Dave, 1995 and Osmond,1999).Osmond (1999) Menyatakan bahwa hal ini mengurangi subluksasi atau dislokasi dari sendi dan Styrcula (1994a) serta Rosen,Chen, Hiebert dan Koval (2001) memberikan kredit dalam penggunaan traksi dengan reduksi tahanan yang dibutuhkan ketika melakukanreduksi fraktur selama pembedahan. Akhirnya, traksi dikatakan untuk membantu pergerakan dan latihan (Dave,1995and Redemann,2002).
Mekanisme traksi meliputi tidak hanya dorongan traksi sebenarnya tetapi juga tahanan yang dikenal sebagai kontertraksi, dorongan pada arah yang berlawanan, diperlukan untuk keefektifan traksi, kontertraksi mencegah pasien dari jatuh dalam arah dorongan traksi. Tanpa hal itu,spasme otot tidak dapat menjadi lebih baik dan semua keuntungan traksi hanya menjadi lewat saja.Ada dua tipe dari mekanik untuk traksi, dimana menggunakan Kontertraksi dalam dua cara yang berbeda.Yang pertama dikenal dengan traksi keseimbangan, juga dikenal sebagai traksi luncur atau berlari.Disini traksi diaplikasikan melalui kulit pasien atau dnegan metode skeletal.Berat dan katrol digunakan untuk mengaplikasikan tahanan langsung sementara berat tubuh pasien dalam kombinasi dengan elevasi dari dorongan tempat tidur traksi untuk menyediakan kontertraksinya (Taylor, 1987, Styrcula, 1994a; Dave,1995 and Osmond, 1999). Traksi Buck akan menjadi contoh dari ha ini. Yang kedua dinamakan traksi fixed dan kontertraksi dimasukkan diantaran 2 point cocok yang tidak membutuhkan berat atau elevasi tempat tidur untuk mencapai traksi dan kontertraksi. Splibt Thomas merupakan contoh dari system traksi ini. (Taylor, 1987, Styrcula,1994a;Dave,1995 and Osmond,1999).
Penggunaan Traksi telah didokumentasikan melalui banyak literature : traksi digunakan untuk mempromosikan istirahat/imobilisasi, dimana membuat keurusan tulang dan jaringan lunak menyembuh (Taylor,1987; Dave 1995 and Redemann, 2002).Hal ini menolong untuk mengistirahatkan inflamasi yang ada dan mengurangi nyeri (Taylor,1987; Dave, 1995 and Osmond,1999).Osmond (1999) Menyatakan bahwa hal ini mengurangi subluksasi atau dislokasi dari sendi dan Styrcula (1994a) serta Rosen,Chen, Hiebert dan Koval (2001) memberikan kredit dalam penggunaan traksi dengan reduksi tahanan yang dibutuhkan ketika melakukanreduksi fraktur selama pembedahan. Akhirnya, traksi dikatakan untuk membantu pergerakan dan latihan (Dave,1995and Redemann,2002).
Mekanisme traksi meliputi tidak hanya dorongan traksi sebenarnya tetapi juga tahanan yang dikenal sebagai kontertraksi, dorongan pada arah yang berlawanan, diperlukan untuk keefektifan traksi, kontertraksi mencegah pasien dari jatuh dalam arah dorongan traksi. Tanpa hal itu,spasme otot tidak dapat menjadi lebih baik dan semua keuntungan traksi hanya menjadi lewat saja.Ada dua tipe dari mekanik untuk traksi, dimana menggunakan Kontertraksi dalam dua cara yang berbeda.Yang pertama dikenal dengan traksi keseimbangan, juga dikenal sebagai traksi luncur atau berlari.Disini traksi diaplikasikan melalui kulit pasien atau dnegan metode skeletal.Berat dan katrol digunakan untuk mengaplikasikan tahanan langsung sementara berat tubuh pasien dalam kombinasi dengan elevasi dari dorongan tempat tidur traksi untuk menyediakan kontertraksinya (Taylor, 1987, Styrcula, 1994a; Dave,1995 and Osmond, 1999). Traksi Buck akan menjadi contoh dari ha ini. Yang kedua dinamakan traksi fixed dan kontertraksi dimasukkan diantaran 2 point cocok yang tidak membutuhkan berat atau elevasi tempat tidur untuk mencapai traksi dan kontertraksi. Splibt Thomas merupakan contoh dari system traksi ini. (Taylor, 1987, Styrcula,1994a;Dave,1995 and Osmond,1999).
Komponen Mekanis dari system traksi, katrol (pulley), tahanan
vector dan friksi, terkait dengan beberapa
factor : cara dimana kontertraksi diaplikasikan dan sudut, arah, serta jumlah tahanan traksi yang diaplikasikan
(Taylor,1987: 3).Sudut dan arah dorongan traksi bergantung pada posisi katrol
dan jumlah efek katrol sama dengan jumlah dorongan yang diaplikasikan. Ketika
dua katrol segaris pada berat traksi yang sama maka disebut dengan ‘block and
tackle effect” hamper menggandakan jumlah dari tahanan dorongan. Tahanan vector
diciptakan dengan mengaplikasikan tahanan traksi pada dua yang berebda tetapi
tidak berlawanan terhadap sisi tubuh yang sama. Hasil ini menghasilkan tahanan
ganda untuk dorongan traksi yang actual.(Taylor, 1987 and Styrcula,1994a).
Friksi selalu ada dalam setiap system traksi. Friksi
memberikan resistansi terhadap dorongan traksi mala
mengurangi tahanan traksi.Hal ini diperlukan untuk meminimalisir kapanpun dan bagaimanapun
kemungkinan nantinya.(Taylor, 1987 and Styrcula, 1994a).
B. Permasalahan
Dalam makalah ini kami mengangkat masalah mengenai “Traksi
serta konsep Traksi”
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan
makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah KMB III
2.
Mengetahui
konsep Traksi
3.
Mengetahui
Tujuan pemasangan Traksi
BAB II
PEMBAHASAN
Traksi adalah Penggunaan kekuatan
penarikan pada bagian tubuh yang dilakukan dengan member beban yang cukup untuk
mengatasi penarikan otot.
v Axis
traksi : Traksi sepanjang sumbu seperti sumbu pelvis pada
obstetri
v Traksi
elastic : Traksi dengan tenaga elastik atau dengan menggunakan
bahan elastik
v Traksi skeletal : Traksi yang dipasang secara langsung pada tulang panjang dengan
menggunakan pen, kawat dll
v Traksi kulit : Traksi pada bagian tubuh yang ditahan dengan alat yang dilekatkan dengan
membalutkan ke permukaan tubuh.
Prinsip :
Penetralan kekuatan memendek otot pada daerah yang patah dan membidai
tulang yang patah dengan kekuatan
otot.
Keuntungan :
Mudah, cepat terjadi pembentukan kalus.
Kerugian : Pasien harus berada di tempat
tidur dalam waktu yang lama ( hati-hati pneumonia, trombosis ) bila tidak
dipantau dengan baik, dapat juga terjadi infeksi pin penjepit.
Traksi dilakukan dengan menempatkan
beban dengan tali pada bagian ekstremitas pasien, tempat tarikan di sesuaikan
dengan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang
tulang yang patah. Traksi mempunyai banyak keuntungan sebagai metode yang
dengan nyata dapat mempertahankan reduksi. Bentuk-bentuk traksi biasanya akan membuat
ekstremitas yang patah akan terangkat lebih tinggi sehingga pembengkakan dan
meningkatkan penyembuhan jaringan lunak.
Penggunaan traksi memungkinkan
pasien masih bisa bergerak di tempat tidur asal tali longitudinal ditempatkan
pada posisi yang tepat dan bidai, gips atau bebat yang digunakan untuk menahan
ekstremitas tersebut berada dalam keseimbangan yang baik.
Sewaktu pemasangan atau mempertahankan traksi ada beberapa factor penting yang harus
dipertimbangkan, Yaitu:
1. Tali utama yang biasanya dipasang
pada rangka sebaiknya menimbulkan gaya tarik yang segaris dengan sumbu panjang
normal tulang panjang yang patah
2. Berat ekstremitas maupun
alat-alat penyokongnya sebaiknya seimbang dengan pemberat untuk
menjamin agar reduksi dapat dipertahankan secara stabil dan
mendukung ektremitas yang patah itu selama penderita dirawat di tempat tidur,
sedapat mungkin kerekan dan tali ditempatkan cukup tinggi dan berada disamping
tempat tidur.
3. Tulang yang menonjol seperti
tumit, maleolus dan kepala fibula harus diberi perhatian khusus dengan
memberikan lapisan secukupnya atau terlindung dengan baik
4. Tali traksi sebaiknya dapat
bergerak bebas melalui kerekan.Pemberat harus cukup tinggi di atas lantai
dengan pasien dalam posisi normal diatas tempat tidur sehingga perubahan posisi rutin tidak menyebabkan
pemberat diletakkan diatas lantai sehingga menghilangkan regangan yang
diperlukan oleh tali.Traksi yang dipasang dan dipertahankan dengan baik akan
terasa nyaman.
Ø
Untuk meminimalkan spasme otot
Ø
Untuk Mengurangi dan mempertahankan
kesejajaran tubuh
Ø
Untuk Mengimobilisasi Fraktur
Ø
Untuk menambah ruangan diantara
kedua permukaan patahan tulang
1.
Traksi kulit
Kulit hanya bisa dapat menahan
sekitar 5 kg traksi pada orang dewasa. Jika lebih dari ini tahanan yang
dibutuhkan untuk mendapatkan dalam menjaga reduksi, traksi tulang mungkin
diperlukan. Hindari traksi tulang pada anak-anak- plate pertumbuhan dapat
dengan mudah hancur dengan pin tulang.
Indikasi untuk traksi kulit
a).Anak-anak
b).Traksi temporer - hanya untuk beberapa hari, missal pre operasi
c).Tahanan kecil dibutuhkan untuk menjaga reduksi 5 kg
d).Kerusakan kulit atau adanya sepsis diarea tersebut
a).Anak-anak
b).Traksi temporer - hanya untuk beberapa hari, missal pre operasi
c).Tahanan kecil dibutuhkan untuk menjaga reduksi 5 kg
d).Kerusakan kulit atau adanya sepsis diarea tersebut
Cara Kerja
·
oleskan benzoin tinktur pada kulit
dengan letakkan bilah papan pada kadua sistem ekstremitas sampai garis patahan
tulang
- Balut dengan krep secara spiral ( jangan sekali-kali buat balutan melingkar dari bilah perekat.
- Lekatkan sebuah pita kebilah papan menggunakan sepotong kayu. Hati-hati: jangan membalut sampai ke proksimal garis patahan kontrol peredaran darah dan keadaan kulit secara teratur. Pemberat traksi tidak boleh lebih dari 5 kg.
2. Traksi tulang
Indikasi Traksi Tulang
a).Orang dewasa membutuhkan > 5kg traksi
b).Kerusakan kulit membutuhkan dressings
c).Jangka panjang Desinfeksi kulit, penutup steril, anastesi local
a).Orang dewasa membutuhkan > 5kg traksi
b).Kerusakan kulit membutuhkan dressings
c).Jangka panjang Desinfeksi kulit, penutup steril, anastesi local
Cara kerja
v Insisi
kulit dengan skapel
v Masukkan
pin stein man (2-4 mm) atau kawat kirschner (2 mm) mulai pada sisi yang sulit
(femur dan kalkaneus dari sisi medial, tibia dari sisi lateral), insisi kulit
kedua pada sisi kontralateral dan masukkan pin melalui kulit
v Fiksasi
pin dengan menggunakan sanggurdi Bohler dengan pin penempel tomas
v Pasang
pemberat traksi (numerus 2,5 %, femur 10-15 %, tibia 5 % atau 1/7 dari berat
badan)
v Disekeliling
lempeng dibalu dengan balutan steril tutup ujung runcingnya. Perhatikan :
kontrol arah optimal traksi dan lubang pin setiap hari, kurangi beban traksi
jika patahan tulang keluar. Mulai lakukan fisioterapi dini.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Prinsip :
Penetralan kekuatan memendek otot pada daerah yang patah dan membidai
tulang yang patah dengan kekuatan otot
·
Keuntungan :
Mudah, cepat terjadi pembentukan kalus
·
Kerugian : Pasien harus berada di tempat
tidur dalam waktu yang lama ( hati-hati pneumonia, trombosis ) bila tidak
dipantau dengan baik, dapat juga terjadi infeksi pin penjepit
Ø
Untuk meminimalkan spasme otot
Ø
Untuk Mengurangi dan mempertahankan
kesejajaran tubuh
Ø
Untuk Mengimobilisasi Fraktur
Ø
Untuk menambah ruangan diantara
kedua permukaan patahan tulang
B.
Saran
Dalam
melakukan tindakan pemasangan traksi,baik traksi kulit maupun traksi tulang sebaiknya
prinsip-prinsip serta indikasi pemasangan traksi diutamakan agar dalam
melakukan tindakan ini,tidak ada yang di rugikan khususnya pasien.
DAFTAR PUSTAKA
1)
Sjamsuhidajat R dan de Jong, Wim (Editor). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
Jakarta: EGC.2005
2) Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah FKUI.
3) Dandy DJ. Essential Orthopaedics and Trauma. Edinburg, London, Melborue, New York: Churchill Livingstone, 1989.
4) Salter/ Textbook of Disorders and injuries of the Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore/London: Willians & Wilkins, 1983.
5) Rosenthal RE. Fracture and Dislocation of the Lower Extremity. In: Early Care of the Injured Patient, ed IV. Toronto, Philadelphia: B.C. Decker, 1990
2) Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah FKUI.
3) Dandy DJ. Essential Orthopaedics and Trauma. Edinburg, London, Melborue, New York: Churchill Livingstone, 1989.
4) Salter/ Textbook of Disorders and injuries of the Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore/London: Willians & Wilkins, 1983.
5) Rosenthal RE. Fracture and Dislocation of the Lower Extremity. In: Early Care of the Injured Patient, ed IV. Toronto, Philadelphia: B.C. Decker, 1990
Tidak ada komentar:
Posting Komentar