ALERGI DAN PENATALAKSANAANNYA
1. ALERGI MATAHARI
Definisi
Lebih dari rasa terbakar oleh sinar matahari, alergi matahari merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sinar matahari yang sering berupa sakit kepala, ruam, gatal dan mual. Bisa juga hingga lecet dan pendarahan di bawah kulit. Dalam kasus ekstrem, ada orang yang hanya beberapa menit terpapar sinar matahari akan langsung bereaksi.
Lebih dari rasa terbakar oleh sinar matahari, alergi matahari merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sinar matahari yang sering berupa sakit kepala, ruam, gatal dan mual. Bisa juga hingga lecet dan pendarahan di bawah kulit. Dalam kasus ekstrem, ada orang yang hanya beberapa menit terpapar sinar matahari akan langsung bereaksi.
Penatalaksanaan
Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan Matahari penderita alergi ini diharuskan melindungi kulit dengan tabir surya.
Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau local
2. ALERGI SEKS
Definisi
Alergi seks dikenal sebagai seminal plasma hypersensitivity dengan melibatkan reaksi fisik yang negatif terhadap cairan mani seorang pria (cairan yang membawa sperma). Gejalanya termasuk gatal-gatal, bengkak, dan kesulitan bernapas.
Alergi seks dikenal sebagai seminal plasma hypersensitivity dengan melibatkan reaksi fisik yang negatif terhadap cairan mani seorang pria (cairan yang membawa sperma). Gejalanya termasuk gatal-gatal, bengkak, dan kesulitan bernapas.
Penatalaksanaan
pengobatan untuk kondisi ini yakni kondom dan terapi pemaparan.
3. ALERGI ZAT-ZAT KIMIA
Definisi
Alergi zat-zat kimia adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan kimia
Penatalaksanaan
Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan allergen penyebab dan eliminasi.
Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau local.
Untuk gejala yang berat dan lama, bila terapi lain tidak memuaskan dilakukan imunoterapi melalui desensitisasi dan hiposensitisasi atau netralisasi
4. ALERGI OLAHRAGA
Definisi
Ini merupakan alasan paling oke untuk absen dari gym. Padahal penderitanya akan merasa cukup menderita bila mendengar suara-suara aktivitas olahraga. Gejala dari kondisi yang disebut induksi anafilaksis dan urtikaria ini bisa berupa gatal-gatal dan masalah gastrointestinal yang bisa mengancam jiwa.
Ini merupakan alasan paling oke untuk absen dari gym. Padahal penderitanya akan merasa cukup menderita bila mendengar suara-suara aktivitas olahraga. Gejala dari kondisi yang disebut induksi anafilaksis dan urtikaria ini bisa berupa gatal-gatal dan masalah gastrointestinal yang bisa mengancam jiwa.
Penatalaksanaan
Pilihan pengobatannya bisa dengan pantang dari beraktivitas fisik maupun minum obat seperti antihistamin dan mast cell stabilizers.
5. ALERGI MAKANAN
Definisi :
Definisi :
 Alergi makanan adalah respon abnormal tubuh terhadap suatu makanan yang dicetuskan oleh reaksi spesifik pada sistem imun dengan gejala yang spesifik pula
 Alergi makanan adalah kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan.
 Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasaranya adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV.
Penatalaksanaan :
Diit Eliminasi
Berdasarkan riwayat penyakit dan tes buta ganda, harus dievaluasi sesudah beberapa lama, kalau perlu konsultasi dengan ahli diit. Setelah diit selama 6 bulan dapat dirangsang dengan makanan diit coba ( challenge ) lagi.
Makanan yang boleh dimakan : nasi, pepaya, kambing, ayam, daging sapi, wortel, sayur, ubi, singkong, jagung, minyak, garam,gula,madu,dan cuka.
Makanan yang tidak boleh dimakan : semua makanan yang dicurigai dapat menyebabkan reaksi alergi : merica, bumbu-bumbu dapur, kopi, teh, permen, udang, ikan laut, telor, coklat, dan sebagainya.
Obat-obatan
Antihistamin dapat dipakai Chlortrimetan 2 – 4 mg/ hari atau antihistamin lain, obat-obatan golongan adrenergik/ epinephrin 1/1000 0,3 cc/subkutan : bila timbul reaksi anafilaktik. Dapat diberi Kortikosteroid, Prednison 5 mg 3 x 1 – 2 tablet/hari, kemudian dosis diturunkan
Diit Eliminasi
Berdasarkan riwayat penyakit dan tes buta ganda, harus dievaluasi sesudah beberapa lama, kalau perlu konsultasi dengan ahli diit. Setelah diit selama 6 bulan dapat dirangsang dengan makanan diit coba ( challenge ) lagi.
Makanan yang boleh dimakan : nasi, pepaya, kambing, ayam, daging sapi, wortel, sayur, ubi, singkong, jagung, minyak, garam,gula,madu,dan cuka.
Makanan yang tidak boleh dimakan : semua makanan yang dicurigai dapat menyebabkan reaksi alergi : merica, bumbu-bumbu dapur, kopi, teh, permen, udang, ikan laut, telor, coklat, dan sebagainya.
Obat-obatan
Antihistamin dapat dipakai Chlortrimetan 2 – 4 mg/ hari atau antihistamin lain, obat-obatan golongan adrenergik/ epinephrin 1/1000 0,3 cc/subkutan : bila timbul reaksi anafilaktik. Dapat diberi Kortikosteroid, Prednison 5 mg 3 x 1 – 2 tablet/hari, kemudian dosis diturunkan
6. DERMATITIS KONTAK ALERGI
Definisi
Dermatitis kontak Alergi adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang timbul melalui mekanisme non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan mekanisme imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan meka nisme imunologik yang spesifik
Dermatitis kontak Alergi adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang timbul melalui mekanisme non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan mekanisme imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan meka nisme imunologik yang spesifik
Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik yang baik adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit.
Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung tangan karet di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang panjang, penggunaan deterjen.
Pengobatan
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan terapi kering. Makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres, bila subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin ), bila kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di dalam, diberi salep. Medikamentosa topical saja dapat diberikan pada kasus-kasus ringan. Jenis-jenisnya adalah :
1)Kortikosteroid
Kortikosteroid mempunyai peranan penting dalam sistem imun. Pemberian topikal akan menghambat reaksi aferen dan eferen dari dermatitis kontak alergik. Steroid menghambat aktivasi dan proliferasi spesifik antigen. Ini mungkin disebabkan karena efek langsung pada sel penyaji antigen dan sel T. Pemberian steroid topikal pada kulit menyebabkan hilangnya molekul CD1 dan HLA-DR sel Langerhans, sehingga sel Langerhans kehilangan fungsi penyaji antigennya. Juga menghalangi pelepasan IL-2 oleh sel T, dengan demikian profilerasi sel T dihambat. Efek imunomodulator ini meniadakan respon imun yang terjadi dalam proses dermatitis kontak dengan demikian efek terapetik. Jenis yang dapat diberikan adalah hidrokortison 2,5 %, halcinonid dan triamsinolon asetonid. Cara pemakaian topikal dengan menggosok secara lembut. Untuk meningkatan penetrasi obat dan mempercepat penyembuhan, dapat dilakukan secara tertutup dengan film plastik selama 6-10 jam setiap hari. Perlu diperhatikan timbulnya efek samping berupa potensiasi, atrofi kulit dan erupsi akneiformis.
2)Radiasi ultraviolet
Sinar ultraviolet juga mempunyai efek terapetik dalam dermatitis kontak melalui sistem imun. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan hilangnya fungsi sel Langerhans dan menginduksi timbulnya sel panyaji antigen yang berasal dari sumsum tulang yang dapat mengaktivasi sel T supresor. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan hilangnya molekul permukaan sel langehans (CDI dan HLA-DR), sehingga menghilangkan fungsi penyaji antigennya. Kombinasi 8-methoxy-psoralen dan UVA (PUVA) dapat menekan reaksi peradangan dan imunitis. Secara imunologis dan histologis PUVA akan mengurangi ketebalan epidermis, menurunkan jumlah sel Langerhans di epidermis, sel mast di dermis dan infiltrasi mononuklear. Fase induksi dan elisitasi dapat diblok oleh UVB. Melalui mekanisme yang diperantarai TNF maka jumlah HLA- DR + dari sel Langerhans akan sangat berkurang jumlahnya dan sel Langerhans menjadi tolerogenik. UVB juga merangsang ekspresi ICAM-1 pada keratinosit dan sel Langerhans.
3)Siklosporin A
Pemberian siklosporin A topikal menghambat elisitasi dari hipersensitivitas kontak pada marmut percobaan, tapi pada manusia hanya memberikan efek minimal, mungkin disebabkan oleh kurangnya absorbs atau inaktivasi dari obat di epidermis atau dermis.
4)Antibiotika dan antimikotika
Superinfeksi dapat ditimbulkan oleh S. aureus, S. beta dan alfa hemolitikus, E. koli, Proteus dan Kandida spp. Pada keadaan superinfeksi tersebut dapat diberikan antibiotika (misalnya gentamisin) dan antimikotika (misalnya clotrimazole) dalam bentuk topikal.
5)Imunosupresif topikal
Obat-obatan baru yang bersifat imunosupresif adalah FK 506 (Tacrolimus) dan SDZ ASM 981. Tacrolimus bekerja dengan menghambat proliferasi sel T melalui penurunan sekresi sitokin seperti IL-2 dan IL-4 tanpa merubah responnya terhadap sitokin eksogen lain. Hal ini akan mengurangi peradangan kulit dengan tidak menimbulkan atrofi kulit dan efek samping sistemik. SDZ ASM 981 merupakan derivat askomisin makrolatum yang berefek anti inflamasi yang tinggi. Pada konsentrasi 0,1% potensinya sebanding dengan kortikosteroid klobetasol-17-propionat 0,05% dan pada konsentrasi 1% sebanding dengan betametason 17-valerat 0,1%, namun tidak menimbulkan atrofi kulit. Konsentrasi yang diajurkan adalah 1%. Efek anti peradangan tidak mengganggu respon imun sistemik dan penggunaan secara topikal sama efektifnya dengan pemakaian secara oral
Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik yang baik adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit.
Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung tangan karet di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang panjang, penggunaan deterjen.
Pengobatan
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan dermatitis yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan terapi kering. Makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres, bila subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin ), bila kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di dalam, diberi salep. Medikamentosa topical saja dapat diberikan pada kasus-kasus ringan. Jenis-jenisnya adalah :
1)Kortikosteroid
Kortikosteroid mempunyai peranan penting dalam sistem imun. Pemberian topikal akan menghambat reaksi aferen dan eferen dari dermatitis kontak alergik. Steroid menghambat aktivasi dan proliferasi spesifik antigen. Ini mungkin disebabkan karena efek langsung pada sel penyaji antigen dan sel T. Pemberian steroid topikal pada kulit menyebabkan hilangnya molekul CD1 dan HLA-DR sel Langerhans, sehingga sel Langerhans kehilangan fungsi penyaji antigennya. Juga menghalangi pelepasan IL-2 oleh sel T, dengan demikian profilerasi sel T dihambat. Efek imunomodulator ini meniadakan respon imun yang terjadi dalam proses dermatitis kontak dengan demikian efek terapetik. Jenis yang dapat diberikan adalah hidrokortison 2,5 %, halcinonid dan triamsinolon asetonid. Cara pemakaian topikal dengan menggosok secara lembut. Untuk meningkatan penetrasi obat dan mempercepat penyembuhan, dapat dilakukan secara tertutup dengan film plastik selama 6-10 jam setiap hari. Perlu diperhatikan timbulnya efek samping berupa potensiasi, atrofi kulit dan erupsi akneiformis.
2)Radiasi ultraviolet
Sinar ultraviolet juga mempunyai efek terapetik dalam dermatitis kontak melalui sistem imun. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan hilangnya fungsi sel Langerhans dan menginduksi timbulnya sel panyaji antigen yang berasal dari sumsum tulang yang dapat mengaktivasi sel T supresor. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan hilangnya molekul permukaan sel langehans (CDI dan HLA-DR), sehingga menghilangkan fungsi penyaji antigennya. Kombinasi 8-methoxy-psoralen dan UVA (PUVA) dapat menekan reaksi peradangan dan imunitis. Secara imunologis dan histologis PUVA akan mengurangi ketebalan epidermis, menurunkan jumlah sel Langerhans di epidermis, sel mast di dermis dan infiltrasi mononuklear. Fase induksi dan elisitasi dapat diblok oleh UVB. Melalui mekanisme yang diperantarai TNF maka jumlah HLA- DR + dari sel Langerhans akan sangat berkurang jumlahnya dan sel Langerhans menjadi tolerogenik. UVB juga merangsang ekspresi ICAM-1 pada keratinosit dan sel Langerhans.
3)Siklosporin A
Pemberian siklosporin A topikal menghambat elisitasi dari hipersensitivitas kontak pada marmut percobaan, tapi pada manusia hanya memberikan efek minimal, mungkin disebabkan oleh kurangnya absorbs atau inaktivasi dari obat di epidermis atau dermis.
4)Antibiotika dan antimikotika
Superinfeksi dapat ditimbulkan oleh S. aureus, S. beta dan alfa hemolitikus, E. koli, Proteus dan Kandida spp. Pada keadaan superinfeksi tersebut dapat diberikan antibiotika (misalnya gentamisin) dan antimikotika (misalnya clotrimazole) dalam bentuk topikal.
5)Imunosupresif topikal
Obat-obatan baru yang bersifat imunosupresif adalah FK 506 (Tacrolimus) dan SDZ ASM 981. Tacrolimus bekerja dengan menghambat proliferasi sel T melalui penurunan sekresi sitokin seperti IL-2 dan IL-4 tanpa merubah responnya terhadap sitokin eksogen lain. Hal ini akan mengurangi peradangan kulit dengan tidak menimbulkan atrofi kulit dan efek samping sistemik. SDZ ASM 981 merupakan derivat askomisin makrolatum yang berefek anti inflamasi yang tinggi. Pada konsentrasi 0,1% potensinya sebanding dengan kortikosteroid klobetasol-17-propionat 0,05% dan pada konsentrasi 1% sebanding dengan betametason 17-valerat 0,1%, namun tidak menimbulkan atrofi kulit. Konsentrasi yang diajurkan adalah 1%. Efek anti peradangan tidak mengganggu respon imun sistemik dan penggunaan secara topikal sama efektifnya dengan pemakaian secara oral
7. ALERGI OBAT
Definisi
Alergi obat adalah respon abnormal seseorang terhadap bahan obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi yang dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas yang terjadi selama atau setelah pemakaian obat. Alergi obat masuk kedalam penggolongan reaksi simpang obat (adverse drug reaction), yang meliputi toksisitas, efek samping, idiosinkrasi, intoleransi dan alergi obat. Toksisitas obat adalah efek obat berhubungan dengan kelebihan dosis obat. Efek samping obat adalah efek obat selain khasiat utama yang timbul karena sifat farmakologi obat atau interaksi dengan obat lain. Idiosinkrasi adalah reaksi obat yang timbul tidak berhubungan dengan sifat farmakologi obat, terdapat dengan proporsi bervariasi pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui. Intoleransi adalah reaksi terhadap obat bukan karena sifat farmakologi, timbul karena proses non imunologi. Sedangkan alergi obat adalah respon abnormal terhadap obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi.
Penatalaksanaan
Dasar utama penatalaksanaan alergi obat adalah penghentian obat yang dicurigai kemudian mengatasi gejala klinis yang timbul.
Penghentian obat
Kalau mungkin semua obat dihentikan dulu,kecuali obat yang memang perlu dan tidak dicurigai sebagai penyebab reaksi alergi atau menggantikan dengan obat lain. Bila obat tersebut dianggap sangat penting dan tak dapat digantikan, dapat terus diberikan atas persetujuan keluarga, dan dengan cara desensitisasi.
Pengobatan
Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Untuk pruritus, urtikaria atau edema angionerotik dapat diberikan antihistamin misalnya, diphenhidramin, loratadin atau cetirizine dan kalau kelainan cukup luas diberikan pula adrenalin subkutan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. Difenhidramin diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam.
Setirizin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis, 1 kali/hari; > 6 tahun : 5-10 mg/dosis, 1 kali/hari.
Loratadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1 kali/hari.
Feksofenadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari, 4kali/hari. Bila gejala klinis sangat berat misalnya dermatitois eksfoliatif, ekrosis epidermal toksik, sindroma Steven Johnson, vaskulitis, kelainan paru, kelainan hematologi harus diberikan kortikosteroid serta pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, tranfusi, antibiotik profilaksis dan perawatan kulit sebagaimana pada luka bakar untuk kelainan-kelainan dermatitis eksfoliatif, nekrosis epidermal toksik dan Sindroma Steven Johnson.
Prednison diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4 kali/hari dalam 4-10 hari. Steroid parenteral yang digunakan adalah metil prednisolon atau hidrokortison dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison oral. Cairan dan elektrolit dipenuhi dengan pemberian Dekstrosa 5% dalam 0,225% NaCl atau Dekstrosa 5% dalam 0,45% NaCl dengan jumlah rumatan dan dehidrasi yang ada.
Perawatan lokal segera dilakukan untuk mencegah perlekatan, parut atau kontraktur. Reaksi anafilaksis harus mendapat penatalaksanaan adekwat secepatnya. Kortikosteroid topikal diberikan untuk erupsi kulit dengan dasar reaksi tipe IV dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pemilihan sediaan dan macam obat tergantung luasnya lesi dan tempat. Prinsip umum adalah : dimulai dengan kortikosteroid potensi rendah. Krim mempunyai kelebihan lebih mudah dioles, baik untuk lesi basah tetapi kurang melindungi kehilangan kelembaban kulit. Salep lebih melindungi kehilangan kelembaban kulit, tetapi sering menyebabkan gatal dan folikulitis. Sediaan semprotan digunakan pada daerah kepala dan daerah berambut lain. Pada umumnya steroid topikal diberikan setelah mandi, tidak diberikan lebih dari 2 kali sehari. Tidak boleh memakai potensi medium sampai tinggi untuk daerah kulit yang tipis misalnya muka, leher, ketiak dan selangkangan..
8. RINITIS ALERGI
Definisi
Rinitis alergi menurut WHO (2001) adalah kelainan pada hidung setelah mukosa hidung terpapar oleh alergen yang diperantarai oleh IgE dengan gejala bersin-bersin, keluar ingus encer (rinore), rasa gatal pada hidung dan hidung tersumbat. Menurut sifat berlangsungnya rinitis alergi dibedakan menjadi dua yaitu rinitis alergi musiman (hay fever, seasonal, polinosis) dan rinitis alergi sepanjang tahun (parennial).
Penatalaksanaan
-Hindari kontak & eliminasi. Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak dengan alergen penyebab (avoidance). Eliminasi untuk allergen ingestan (alergi makanan).
-Simptomatik. Terapi medikamentosa (obat) yaitu antihistamin, dekongestan dan kortikosteroid.
-Operatif. Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
-Imunoterapi. Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan.
Seiring perkembangan zaman, angka kejadian yang biasa disebut masyarakat penyakit pilek alergi semakin meningkat setiap tahunnya dari angka yang sudah diketahui. Karena kebanyakan masyarakat menganggapnya suatu hal biasa, tidak diperhatikan, diabaikan dan baru berkunjung ke dokter setelah penyakitnya parah. Orang-orang baru berobat ke dokter jika sudah dianggap parah, padahal pengobatan itu lebih mudah dilakukan sejak dini daripada yang berkelanjutan.
Jika sudah parah, pengobatan akan lebih sulit dilakukan lantaran penggunaan obat hanya menghilangkan gejala, sedangkan penyembuhannya tergantung peran serta penderita dalam menghindari kontak dengan allergen. Untuk itu terdapat lima langkah meningkatkan kualitas hidup penderita rinitis alergi, yakni pertama pahami kondisi tubuh anda dimana kondisi tubuh menurun menyebabkan gejala rinitis akan muncul, kedua hindari faktor penyebab dan pencetus timbulnya gejala, ketiga mencegah komplikasi yang bisa timbul dengan penanganan sedini mungkin, keempat ubah gaya hidup untuk meningkatkan kondisi badan serta kelima kenali obat alergi. Dengan mengikuti 5 langkah tersebut secara langsung penderita ikut menyembuhkan dirinya sendiri. Jika bisa berlangsung secara terus-menerus maka dipastikan 5-10 tahun Rinitis Alergi tidak kambuh lagi. Untuk itu mengubah pola hidup sehat bisa mengurangi angka penderita. Tindakan pencegahan pun perlu dilakukan agar tak merangsang kambuhnya rinitis alergi.
1. Menghindari makanan dan obat-obatan yang dapat menimbulkan alergi.
2. Jangan biarkan hewan berbulu masuk kedalam rumah, jika alergi terhadap bulu hewan.
3. Bersihkan debu dengan menyedot dan lap basah, minimal 2-3 kali dalam satu minggu, jangan menggunakan sapu yang dapat menyebarkan debu.
4. Gunakan pembersih udara elektris (AC) untuk membuang debu rumah, jamur dan pollen dari udara. Cuci dan ganti filter secara berkala.
5. Tutup perabotan berbahan kain dengan lapisan yang bisa dicuci sesering mungkin.
6. Jangan mengunakan bahan atau perabot yang dapat menampung debu didalam debu kamar.
7. Untuk menghindari kontak dengar allergen, gunakan sarung tangan dan masker ketika sedang bersih- bersih di dalam maupun di luar rumah.
8. Larang rokok dan pengunaan produk yang beraroma di rumah.
9. ALERGI DEBU
Defenisi
Alergi Debu adalah reaksi sensitifitas tbuh akibat menghirup debu dan menimbulkan Gejala –gejala berupa bersin-bersin, buntu hidung, hidung berair dan rasa gatal pada hidung..
Penatalaksanaan
Penderita yang alergi terhadap debu rumah sebenarnya tidak perlu merasa bingung karena debu rumah masih dapat dihindari. Berikut ini akan disampaikan beberapa cara menghindari debu rumah.
Defenisi
Alergi Debu adalah reaksi sensitifitas tbuh akibat menghirup debu dan menimbulkan Gejala –gejala berupa bersin-bersin, buntu hidung, hidung berair dan rasa gatal pada hidung..
Penatalaksanaan
Penderita yang alergi terhadap debu rumah sebenarnya tidak perlu merasa bingung karena debu rumah masih dapat dihindari. Berikut ini akan disampaikan beberapa cara menghindari debu rumah.
 Ventilasi ruangan dansinar matahari.
Rumah sebaiknya mempunyai jendela yang cukup untuk ventilasi ruangan sehingga ruangan tetap segar, tidak pengap maupun lembab. Ventilasi yang kurang baik akan menyebabkan debu mudah menumpuk serta udara lembab menyebabkan tungau, jamur mudah berkembang biak. Diusahakan agar sinar matahari dapat masuk ke ruangan (antara lain genting kaca).
Rumah sebaiknya mempunyai jendela yang cukup untuk ventilasi ruangan sehingga ruangan tetap segar, tidak pengap maupun lembab. Ventilasi yang kurang baik akan menyebabkan debu mudah menumpuk serta udara lembab menyebabkan tungau, jamur mudah berkembang biak. Diusahakan agar sinar matahari dapat masuk ke ruangan (antara lain genting kaca).
 Cara membersihkan rumah dan perabot
Bila mau membersihkan lantai atau bagian rumah lainnya, sebaiknya jangan menggunakan sapu karena tindakan ini dapat menerbangkan debu ke seluruh bagian rumah. Sebaiknya membersihkan lantai dilakukan dengan cara mengepel langsung dengan menggunakan pel basah. Pengepelan lantai dapat dilakukan berulang kali, yaitu pertama untuk membersihkan kotoran yang kasar, selanjutnya diulangi sehingga lantai menjadi bersih.
Hal ini sama dikerjakan bila kita akan membersihkan perabot rumah tangga seperti kursi, meja, dan sebagainy , yaitu memakai lap basah.
Walaupun si sakit sedang tidak berada dalam rumah, cara ini harus tetap dikerjakan. Sebaiknya semua anggota rumah mengetahui cara membersihkan rumah yang dianjurkan.
Bila mau membersihkan lantai atau bagian rumah lainnya, sebaiknya jangan menggunakan sapu karena tindakan ini dapat menerbangkan debu ke seluruh bagian rumah. Sebaiknya membersihkan lantai dilakukan dengan cara mengepel langsung dengan menggunakan pel basah. Pengepelan lantai dapat dilakukan berulang kali, yaitu pertama untuk membersihkan kotoran yang kasar, selanjutnya diulangi sehingga lantai menjadi bersih.
Hal ini sama dikerjakan bila kita akan membersihkan perabot rumah tangga seperti kursi, meja, dan sebagainy , yaitu memakai lap basah.
Walaupun si sakit sedang tidak berada dalam rumah, cara ini harus tetap dikerjakan. Sebaiknya semua anggota rumah mengetahui cara membersihkan rumah yang dianjurkan.
 Jangan menggunakan karpet
Debu rumah bisa menempel pada karpet, dan lama-kelamaan debu tersebut akan semakin banyak menumpuk, belum lagi pada permukaan karpet dapat hidup binatang kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa yang disebut tungau. Keadaan ini dapat menyebabkan kambuhnya penyakit tersebut.
Apabila kita ingin memakai karpet, pakailah karpet yang terbuat dari bahan plastik atau karet karena bahan ini mudah dibersihkan dengan memakai lap basah.
Debu rumah bisa menempel pada karpet, dan lama-kelamaan debu tersebut akan semakin banyak menumpuk, belum lagi pada permukaan karpet dapat hidup binatang kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa yang disebut tungau. Keadaan ini dapat menyebabkan kambuhnya penyakit tersebut.
Apabila kita ingin memakai karpet, pakailah karpet yang terbuat dari bahan plastik atau karet karena bahan ini mudah dibersihkan dengan memakai lap basah.
 Kurangi gambar/foto/lukisan dinding
Lukisan atau gambar maupun foto yang ditempel di dinding dapat menyebabkan debu menempel dan sulit dibersihkan apalagi kalau piguranya berukir, debu akan menumpuk dan sulit untuk dibersihkan.
Lukisan atau gambar maupun foto yang ditempel di dinding dapat menyebabkan debu menempel dan sulit dibersihkan apalagi kalau piguranya berukir, debu akan menumpuk dan sulit untuk dibersihkan.
 Perabot rumah tangga sebaiknya tidak berukir
Perabot rumah tangga seperti kursi, lemari, dan sebagainya sebaiknya tidak berukir karena debu dapat menumpuk pada ukiran tersebut dan sangat sulit untuk dibersihkan.
Perabot rumah tangga seperti kursi, lemari, dan sebagainya sebaiknya tidak berukir karena debu dapat menumpuk pada ukiran tersebut dan sangat sulit untuk dibersihkan.
 Kasur dan bantal tidak dibuat dari bahan kapuk
Kasur dan bantal yang dipakai sebaiknya terbuat dari busa dan bukan dari kapuk karena kapuk merupakan tempat hidupnya tungau di samping serat kapuk sendiri dapat menimbulkan reaksi alergi. Apabila kasur terbuat dari bahan kapuk, sebaiknya dibungkus dengan plastik yang rapat sehingga serat-serat kapuk tidak beterbangan.
Kasur dan bantal yang dipakai sebaiknya terbuat dari busa dan bukan dari kapuk karena kapuk merupakan tempat hidupnya tungau di samping serat kapuk sendiri dapat menimbulkan reaksi alergi. Apabila kasur terbuat dari bahan kapuk, sebaiknya dibungkus dengan plastik yang rapat sehingga serat-serat kapuk tidak beterbangan.
 Hindari tumpukan buku-buku, pemakaian kelambu, korden yang tebal, mainan yang terbuat dari bulu, binatang yang dikeringkan, dan selimut wool/lorek.
Semua bahan ini merupakan sumber debu rumah.
Semua bahan ini merupakan sumber debu rumah.
 Penggunaan kipas angin
Kipas angin sebaiknya jangan dihidupkan sebelum ruangan dibersihkan karena hal ini dapat menyebabkan debu rumah beterbangan ke mana-mana. Apabila ruangan sudah dibersihkan dan kipas anginnya sendiri bebas dari debu, barulah kipas angin boleh dipakai.
Nah, selamat mencoba, mudah-mudahan uraian ini dapat bermanfaat dalam mengatasi problem Anda.
Kipas angin sebaiknya jangan dihidupkan sebelum ruangan dibersihkan karena hal ini dapat menyebabkan debu rumah beterbangan ke mana-mana. Apabila ruangan sudah dibersihkan dan kipas anginnya sendiri bebas dari debu, barulah kipas angin boleh dipakai.
Nah, selamat mencoba, mudah-mudahan uraian ini dapat bermanfaat dalam mengatasi problem Anda.
10. ALERGI TEKNOLOGI
Definisi
Tentu akan sangat sulit untuk menghindari teknologi pada zaman ini. Berbagai smartphone, wi-fi, dan TV layar datar akan mudah dijumpai di mana-mana. Tetapi bagaimana jika Anda diharuskan untuk menjauhi semua itu? Orang yang menderita dari electrosensitivity akan mengalami gangguan fisik, termasuk migrain, ruam, dan nyeri dada ketika mereka dekat dengan medan elektromagnetik.
Tentu akan sangat sulit untuk menghindari teknologi pada zaman ini. Berbagai smartphone, wi-fi, dan TV layar datar akan mudah dijumpai di mana-mana. Tetapi bagaimana jika Anda diharuskan untuk menjauhi semua itu? Orang yang menderita dari electrosensitivity akan mengalami gangguan fisik, termasuk migrain, ruam, dan nyeri dada ketika mereka dekat dengan medan elektromagnetik.
Penatalaksanaan
Penderita kondisi ini harus waspada dan menjaga lingkungan mereka agar terbebas dari ponsel, microwave, serta menghindari tempat-tempat yang mungkin memicu reaksi.
11. ALERGI AIR
Definisi
Air merupakan bahan yang mudah dijumpai di sekitar kita. Percaya atau tidak, ada orang yang alergi terhadap air. Kondisi yang dinamai aquagenic urticaria merupakan alergi yang cukup langka. Penderitanya akan mengalami gatal-gatal hingga rasa perih pada kulit bila terkena air dalam suhu tertentu.
Penatalaksanaan
Karena penyebab reaksi ini cukup membingungkan dokter, penatalaksanaan yang efektif belum ditemukan.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0306/06/swara/350638.htm
http://blog-artikel.com/index.php/jenis-jenis-alergi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar